Trends Banten mencatat relokasi PKL Jalan Kiasnawi di Kota Tangerang dijadwalkan mulai berlangsung bertahap pada 14 Oktober 2026. Pemerintah kota akan memindahkan lebih dari 200 pedagang kaki lima dari kawasan sekitar Stasiun Tangerang menuju Pasar Anyar sebagai bagian dari proyek pembangunan trotoar sepanjang 280 meter.
Penataan dilakukan karena akses menuju stasiun selama ini dipenuhi aktivitas perdagangan dan parkir.
Kondisi tersebut membuat ruang pejalan kaki terbatas.
Pada jam sibuk, arus penumpang KRL bertemu dengan kendaraan, angkot, pedagang, dan masyarakat yang beraktivitas di kawasan pasar.
Relokasi PKL Jalan Kiasnawi Mulai 14 Oktober
Pemkot Tangerang telah melakukan sosialisasi kepada perwakilan pedagang.
Camat Tangerang Riswan Setyo Kardinto menyebut lebih dari 200 PKL akan dipindahkan secara bertahap.
Menurut Pemkot Tangerang, pedagang akan ditempatkan di area Pasar Anyar yang telah disiapkan pemerintah.
Relokasi tidak hanya mencakup pedagang tepat di depan stasiun.
Kawasan yang ditata membentang hingga sekitar depan Masjid Agung Al-Ittihad.
Pemerintah menjanjikan area baru yang lebih representatif.
Trotoar Baru Sepanjang 280 Meter
Tahap awal penataan adalah pembangunan trotoar.
Panjang yang direncanakan sekitar 280 meter.
Lebarnya diproyeksikan sekitar 3,5 meter pada bagian yang telah direncanakan pemerintah. Pemerintah Kota Tangerang
Trotoar tersebut diarahkan untuk memberi ruang lebih aman bagi penumpang KRL.
Setiap hari, ribuan orang keluar masuk Stasiun Tangerang.
Sebagian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Sebagian menggunakan angkot atau transportasi lain.
Jika ruang pedestrian tidak tersedia, pejalan kaki terpaksa menggunakan badan jalan.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kecelakaan dan memperlambat lalu lintas.
Penumpang KRL Mendukung Penataan
Sejumlah pengguna KRL menyatakan mendukung proyek.
Mereka menilai kawasan saat pagi cukup padat.
Parkir liar dan aktivitas perdagangan disebut mengganggu pergerakan penumpang.
Menurut laporan resmi Pemkot Tangerang, pengguna berharap proyek tidak berhenti pada rencana dan segera direalisasikan.
Dukungan tersebut menunjukkan kebutuhan pedestrian memang dirasakan pengguna transportasi publik.
Namun, penataan juga harus memperhatikan nasib pedagang.
Pedagang Bergantung pada Arus Penumpang
Lokasi sekitar stasiun mempunyai nilai ekonomi tinggi.
PKL memilih berjualan di sana karena banyak orang lewat.
Memindahkan pedagang berarti mengubah pola pelanggan.
Pasar Anyar mungkin memiliki fasilitas lebih baik.
Namun, pedagang perlu memastikan pembeli tetap datang.
Inilah salah satu tantangan terbesar relokasi PKL.
Penataan kota dapat berhasil secara fisik, tetapi gagal secara sosial jika pendapatan pedagang turun drastis.
Karena itu, akses ke lokasi baru menjadi sangat penting.
DPRD Minta Aspek Ekonomi Tidak Diabaikan
Rencana relokasi juga mendapat perhatian legislatif.
DPRD Kota Tangerang meminta pemerintah memperhatikan dampak ekonomi terhadap pedagang.
Lensa Banten melaporkan penataan tidak boleh hanya mengejar kawasan yang lebih rapi tanpa mempertimbangkan sumber penghasilan masyarakat.
Pandangan ini relevan karena PKL termasuk pelaku ekonomi kecil.
Pendapatan mereka bergantung pada penjualan harian.
Perubahan lokasi dapat langsung memengaruhi penghasilan keluarga.
Pendampingan pada masa transisi kemudian menjadi penting.
Pasar Anyar Bisa Menjadi Pusat Perdagangan Lebih Tertata
Relokasi diarahkan ke Pasar Anyar.
Pasar tersebut merupakan salah satu pusat perdagangan utama Kota Tangerang.
Jika penataan dilakukan baik, pedagang mendapatkan ruang lebih terorganisasi.
Pembeli juga lebih nyaman.
Fasilitas sanitasi, pengelolaan sampah, dan keamanan lebih mudah dikontrol dibanding lapak yang tersebar di jalan.
Namun, pasar harus mudah diakses.
Papan petunjuk dan jalur dari stasiun dapat membantu.
Pemerintah juga dapat melakukan promosi agar masyarakat mengetahui lokasi baru para pedagang.
Integrasi dengan Stasiun Jadi Kunci
Stasiun Tangerang merupakan pusat mobilitas.
Kawasan di sekitarnya idealnya mendukung perpindahan antar moda.
Penumpang turun dari kereta dan melanjutkan dengan angkot, ojek, atau berjalan kaki.
Trotoar menjadi infrastruktur dasar dalam sistem tersebut.
Jika pedestrian nyaman, perjalanan jarak pendek dapat dilakukan tanpa kendaraan.
Hal ini juga membantu mengurangi konflik antara pejalan kaki dan kendaraan.
Penataan Kiasnawi kemudian bukan sekadar proyek estetika.
Ia berkaitan langsung dengan transportasi.
Parkir Liar Juga Perlu Ditangani
Memindahkan PKL saja tidak cukup apabila badan jalan tetap dipenuhi kendaraan parkir.
Pemerintah perlu menjaga area yang telah ditata agar tidak kembali digunakan secara tidak semestinya.
Penegakan aturan harus konsisten.
Namun, pengguna kendaraan juga membutuhkan alternatif.
Area parkir legal harus tersedia.
Jika tidak, parkir liar hanya berpindah ke titik lain.
Kebijakan penataan harus melihat kawasan sebagai satu sistem.
Tahap Konstruksi Bisa Mengganggu Aktivitas
Pembangunan fisik direncanakan berlangsung sekitar November hingga Desember 2026.
Selama pekerjaan, aktivitas sekitar stasiun dapat terganggu.
Material konstruksi dan pembatas jalan membutuhkan ruang.
Pejalan kaki perlu diberikan jalur sementara yang aman.
Pengendara juga harus memperhatikan perubahan arus.
Pemerintah sebaiknya memberikan informasi rutin mengenai tahapan proyek.
Komunikasi membantu masyarakat menyesuaikan perjalanan.
Ukuran Keberhasilan Bukan Hanya Trotoar Selesai
Penataan dapat dianggap berhasil apabila beberapa hal terjadi sekaligus.
Pejalan kaki mendapatkan ruang aman.
Lalu lintas menjadi lebih teratur.
Pedagang tetap memiliki tempat usaha.
Pasar Anyar mendapat peningkatan aktivitas.
Kawasan juga perlu tetap tertib setelah proyek selesai.
Jika PKL kembali ke trotoar karena lokasi baru sepi, masalah lama akan muncul lagi.
Karena itu, keberhasilan relokasi sangat bergantung pada kualitas area baru dan kemampuan menarik pembeli.
Mulai 14 Oktober, proses tersebut akan memasuki tahap nyata.
Lebih dari 200 pedagang harus beradaptasi.
Pemkot Tangerang di sisi lain mempunyai pekerjaan memastikan pembangunan pedestrian tidak mengorbankan keberlanjutan usaha kecil.
Jika dua kepentingan ini dapat diseimbangkan, kawasan Stasiun Tangerang berpeluang menjadi lebih nyaman tanpa kehilangan aktivitas ekonominya.












