TrendsBanten mencatat tim rowing Indonesia mengakhiri perjuangan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan membawa dua medali perak dari Nagaragawa International Regatta Course, Gifu, pada 24 September. Medali pertama datang melalui Rafiq Wijdan Yasir dan Ali Mardiansyah pada lightweight men’s double sculls. Perak kedua dipersembahkan kuartet Ihram, Rendi Setia Maulana, Febrian, dan Memo pada men’s quadruple sculls. Hasil tersebut menempatkan Indonesia di posisi keenam klasemen akhir cabang rowing dengan dua perak dari 14 nomor yang dipertandingkan.
Dua medali tersebut terasa penting karena rowing Indonesia belum memperoleh podium sebelum rangkaian final hari terakhir.
Beberapa nomor yang sebelumnya diprediksi mampu menghasilkan medali justru berakhir di luar tiga besar.
Rafiq dan Ali Membuka Keran Medali
Rafiq Wijdan Yasir dan Ali Mardiansyah turun pada Final A lightweight men’s double sculls.
Pasangan Indonesia tampil stabil sejak awal perlombaan.
Pada 500 meter pertama mereka sudah berada di posisi kedua.
Posisi tersebut mampu dipertahankan hingga garis finis.
Rafiq/Ali mencatat waktu enam menit 23,41 detik.
Mereka terpaut 3,47 detik dari pasangan Uzbekistan Shakhzod Nurmatov dan Sobirjon Safaroliyev yang meraih emas dengan waktu 6 menit 19,94 detik.
Perak tersebut menjadi medali pertama rowing Indonesia pada Asian Games kali ini.
Quadruple Sculls Menambah Perak Kedua
Tidak lama kemudian, Indonesia kembali meraih podium.
Ihram, Rendi Setia Maulana, Febrian, dan Memo turun pada nomor men’s quadruple sculls.
Mereka menyelesaikan lomba 2.000 meter dengan catatan lima menit 47,90 detik.
Kuartet Indonesia bahkan menjadi yang tercepat pada 500 meter pertama.
Mereka membukukan satu menit 25,36 detik pada sektor awal.
Namun, persaingan berubah pada bagian berikutnya.
Indonesia akhirnya finis kedua dan membawa pulang medali perak.
Dua hasil tersebut membuat hari terakhir rowing berubah menjadi penutup positif setelah sejumlah kekecewaan sebelumnya.
Febrian dan La Memo Gagal di Double Sculls
Sebelum memperoleh perak pada quadruple sculls, Febrian dan La Memo lebih dahulu turun di men’s double sculls.
Nomor ini sebenarnya termasuk yang diperkirakan mempunyai peluang medali.
Hasil lomba tidak berjalan sesuai proyeksi.
Febrian/Memo menyelesaikan perlombaan di posisi keempat dengan waktu enam menit 14,42 detik.
Pelatih rowing Indonesia Muhammad Hadris mengakui hasil tersebut berada di bawah prediksi tim.
Menurutnya, secara teknis start, akselerasi, dan kondisi perlombaan tidak menunjukkan persoalan yang mudah terlihat.
Hasil seperti ini menggambarkan tipisnya perbedaan pada level Asia.
Sedikit kehilangan kecepatan pada satu sektor dapat membuat atlet keluar dari posisi podium.
Men’s Pair Juga Belum Mendapat Medali
Ferdiansyah dan Asuhan Pattiiha turun pada men’s pair.
Mereka memulai lomba dengan cukup baik.
Pada 500 meter awal, pasangan Indonesia berada di posisi ketiga dengan catatan satu menit 33,95 detik.
Namun, posisi tidak dapat dipertahankan.
Mereka kehilangan kecepatan pada bagian berikutnya dan akhirnya finis keenam dengan waktu tujuh menit 40,71 detik.
Kazakhstan merebut emas.
China berada di posisi kedua, sedangkan Uzbekistan mendapatkan perunggu.
Hasil ini kembali menunjukkan bahwa start bagus belum menjamin podium dalam balapan 2.000 meter.
Strategi Pace Sangat Menentukan
Rowing berbeda dari lomba sprint pendek.
Atlet harus mengatur tenaga untuk mempertahankan kecepatan sepanjang 2.000 meter.
Jika terlalu agresif pada awal, tenaga dapat menurun sebelum finis.
Sebaliknya, tertinggal terlalu jauh sejak awal membuat atlet sulit mengejar pada bagian akhir.
Tim perlu menentukan stroke rate, ritme, serta waktu melakukan dorongan.
Angin dan kondisi air juga dapat memengaruhi performa.
Karena itu, analisis per sektor menjadi penting setelah perlombaan.
Pelatih dapat melihat apakah kehilangan posisi terjadi pada 500 meter kedua, ketiga, atau ketika memasuki sprint terakhir.
Dua Perak Jadi Modal Evaluasi
Secara keseluruhan, Indonesia mengakhiri cabang rowing dengan dua medali perak.
Hasil tersebut tidak memenuhi semua target yang sempat muncul sebelum pertandingan, tetapi tetap memberikan data penting untuk evaluasi.
Rafiq/Ali menunjukkan kemampuan menjaga posisi sejak start sampai finis.
Kuartet quadruple sculls membuktikan Indonesia mampu bersaing pada bagian depan bahkan sempat memimpin pada awal lomba.
Sementara hasil Febrian/Memo dan men’s pair menunjukkan aspek yang masih harus diperbaiki.
Evaluasi tidak hanya berkaitan dengan kekuatan fisik.
Teknik, koordinasi, pemilihan nomor, strategi race, pemulihan, hingga kondisi peralatan mempunyai peran.
Persaingan Asia Semakin Ketat
Cabang dayung Asia tidak hanya didominasi satu negara.
China mempunyai tradisi kuat, tetapi Uzbekistan, Kazakhstan, Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara lain terus meningkatkan kemampuan.
Persaingan membuat selisih waktu semakin kecil.
Bagi Indonesia, tantangannya adalah menjaga atlet dalam program latihan jangka panjang.
Rowing membutuhkan proses pembentukan fisik dan teknik yang cukup lama.
Pergantian pasangan atau komposisi perahu juga membutuhkan adaptasi.
Pada nomor beregu, empat atlet harus mempunyai ritme yang sangat sinkron.
Satu orang kehilangan tempo dapat memengaruhi kecepatan seluruh perahu.
Asian Games Belum Selesai untuk Indonesia
Cabang rowing memang sudah menutup kompetisi, tetapi Asian Games Aichi-Nagoya masih berlanjut.
Setelah rangkaian pertandingan 24 September, Indonesia berada di posisi ke-16 klasemen sementara dengan satu emas, empat perak, dan 15 perunggu.
Dua dari empat medali perak tersebut berasal dari rowing.
Kontingen masih memiliki peluang menambah perolehan melalui cabang lain.
Atletik, angkat besi, sepak takraw, dan sejumlah nomor lain masih masuk jadwal pertandingan pada 25 September.
Karena klasemen terus berubah setiap hari, posisi tersebut belum menjadi hasil akhir Indonesia.
Untuk tim rowing, tugas pertandingan sudah selesai.
Catatan resmi Asian Games 2026 menunjukkan dua perak menjadi hasil akhir dari seluruh nomor yang mereka ikuti.
Podium itu memberikan gambaran yang cukup jelas.
Indonesia sudah mampu bersaing di kelompok depan Asia pada beberapa nomor, tetapi masih membutuhkan konsistensi agar peluang yang terlihat sejak babak awal dapat benar-benar berubah menjadi medali saat final.
